BANDAR LAMPUNG–Hati orang tua mana yang tidak menjerit menerima kenyataan anaknya menjadi korban dari aksi pelaku pelecehan seksual (Pedofil). Terkejut, miris, sedih, diikuti marah adalah reaksi normal yang mungkin dirasakan.
Hal ini sekaligus membangunkan kesadaran kita, betapa aksi pelecehan tersebut berada begitu dekatnya dari lingkungan kita. Mengintai anak-anak yang kita cintai dari tempat-tempat yang tidak kita duga sama sekali.
Baru-baru ini, kembalinya resedivis  pelecehan seksual terhadap anak dibawah umur (SL) usai menjalani masa tahananya meresahkan warga Kampung Gunung Agung, Kelurahan Way Lunik, Kecamatan Panjang, Bandar Lampung.
Bagaimana tidak? Belum dua bulan pelaku menghirup udara bebas, aksi pedofil diduga kembali terjadi. SL dilaporkan oleh tetangganya, Toto ke Mapolsek Panjang atas dugaan pelecehan seksual terhadap anak gadisnya yang baru berusia sepuluh tahun. Kendati tidak terbukti karena tidak adanya saksi, hal itu terlanjur memicu kekesalan warga.
Warga RT 07A, 07B, 08, 09A, 09B, dan 010 Kampung Gunung Agung sepakat menolak keberadaan SL di lingkungan mereka. Selanjutnya warga beramai-ramai menyambangi kantor Kelurahan Way Lunik menyampaikan kekesalan mereka kepada Lurah. Senin (10/08) pagi.
Warga marah karena menilai SL telah ingkar janji. Sebelumnya, tanggal 15 Oktober 2015, disaksikan tokoh masyarakat Kampung Gunung Agung, SL telah membuat pernyataan tertulis kepada lima keluarga korban pelecehan yang dilakukanya dan berjanji kepada warga tidak akan tinggal di Kampung Gunung Agung setelah menjalani masa tahananya.
“Yang jelas kami sepakat menolak keberadaan SL karena meresahkan warga, kami menuntut SL menepati janjinya saat membuat perdamaian dengan keluarga korban dulu untuk pergi dari kampung Gunung Agung setelah keluar penjara,” ujar Hanung, Ketua Pemuda Gunung Agung kepada Awak media.
Senada diutarakan Siti Zulaikha, warga RT 010 Gunung Agung, menurutnya warga khawatir anak-anaknya ikut menjadi korban SL, “Kami khawatir akan masa depan anak-anak kami dengan keberadaan pelaku,” katanya.
Ibu Emon warga RT 09A, menuturkan beberapa waktu yang lalu anaknya pernah menjadi korban pencabulan SL. Dirinya meminta SL menepati janji untuk angkat kaki dari Kampung Gunung Agung, “Saya minta SL menepati janjinya, jangan sampai ada korban berikutnya di kampung kami,” pungkasnya.
Menyikapi tuntutan warga, Lurah Way Lunik, Dody Marthalaga berupaya menenangkan warga dan mencoba melakukan upaya mediasi antara keluarga SL dengan warga.
Setelah berdialog selama kurang lebih dua jam, akhirnya keluarga SL menyanggupi desakan warga.
“Setelah kita lakukan dialog antara warga dengan keluarga SL, akhirnya keluarga SL menyatakan siap menepati janji untuk pindah dari Gunung Agung secepatnya,” jelas Dody Marthalaga.
Sementara Kapolsek Panjang, AKP Adit Priyanto yang ikut menghadiri dialog meminta warga bersabar dan tidak bertindak yang dapat merugikan semua pihak, “Karena keluarga SL harus menjual rumahya terlebih dahulu sebelum pindah, jadi warga diminta bersabar dan jangan bertindak yang dapat merugikan semua pihak,” pesan Kapolsek.(ibr/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Jabodetabek