BANDAR LAMPUNG,- Dua orang Wartawan yang bertugas di wilayah Kota Bandar Lampung dilarang meliput realisasi pelaksanaan pembangunan proyek drainase (talut) di jalan Soekarno Hatta, Kelurahan Karang Maritim, Kecamatan Panjang, Bandar Lampung, oleh oknum anggota dari korps Marinir berinisial (ER) yang mengaku sebagai pelaksana proyek.

Riyanto, selaku kepala perwakilan Media Jurnal reformasi info dan, bersama Wartawan Media Dinamika Hukum, di duga diintimidasi dan di halang halangi saat melakukan konfirmasi, ER oknum marinir yang menganggap, wartawan tidak memiliki hak melayangkan pertanyaan seputar pekerjaan tersebut.

Kejadian bermula saat tim wartawan meninjau lokasi proyek hari senin (05/09/2020) dan berniat melakukan konfirmasi kepada pengawas proyek. Seorang pekerja menyarankan agar wartawan memberikan nomor handphone untuk disampaikan kepada pengawas yang saat itu sedang tidak ada di lokasi.

“Tinggalin aja no telpon mas, biar nanti disampaikan dengan Pak Warto pengawas,” ujar seorang pekerja.

Bukanya pengawas, justru ER yang menghubungi. Bahkan ER menuding wartawan mencari-cari kesalahan, “Kamu siapa, hak kamu apa nanya-nanya, jangan cari-cari kesalahan, saya Marinir, saya pengawas sekaligus pelaksana proyek ini, kalau mau duit gak ada, kita ketemuan aja siang nanti jam 12 (06/09/2020) di belakang markas lanal panjang, di situ banyak marinir kawan saya, nanti kalau bertemu lain ceritanya,”ujar ER dengan nada tinggi.

Setelah pertemuan di hari yang sama, ER dan didampingi temannya, masih bersipat arogansi,”apa hak kalian, mau tanya tanya apa, jangan menyalah nyalahkan, kalau kamu menyalahkan akan saya selesai kamu nanti,”tegas temannya ER.

Ketua Forum Pers Independent Indonesia (FPII), Aminudin, SP menyayangkan sikap oknum Marinir yang melarang dan mengintimidasi wartawan melakukan konfirmasi untuk meliput pelaksanaan pekerjaan.

Sementara segala bentuk pembangunan penting untuk diketahui masyarakat. Sebab, sebagai pemberi informasi untuk mengetahui sejauh mana proses pembangunanya, “Tujuan teman-teman wartawan bukan untuk mengganggu keamanan dan ketertiban. Mereka datang untuk melakukan peliputan sebagai jurnalis. Wartawan juga dilindungi undang-undang, jangan sampai ada intimidasi,” ujarnya.

Sebelumnya, warga sekitar mengeluhkan pembangunan proyek itu. Warga merasa tidak nyaman. “Sejak adanya proyek itu kerap mengakibatkan macet, juga dampak debu yang berterbangan hingga ke permukiman warga. Warga juga mempertanyakan proyek itu, sebab dilokasi tidak ada satu pun plang pengumuman proyek yang terpasang,” ujar warga sekitar.(Ry/Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Jabodetabek