Breaking News

Tentukan Awal Ramadhan 1441 H,Kemenag Sidang Isbat Kamis 23 April 2020

Nusantara-online.com,_Jakarta, –Sidang isbat untuk menentukan awal Ramadan 1441 H akan digelar Kementerian Agama, pada Kamis 23 April 2020.
Sidang isbat akan diawali dengan pemantauan hilal (rukyatul hilal) oleh kantor wilayah Kemenag provinsi, yang hasilnya dilaporkan ke Ditjen Bimas Islam sebagai bahan penetapan.
Dirjen Bimas Islam Kamaruddin Amin menjelaskan, hasil rukyatul hilal menjadi dasar pengambilan keputusan sidang isbat.
Trigger
1. Meski tengah Pandemik COVID-19 rukyatul hilal tetap dilaksanakan pada 23 April
Terkait pelaksanaan pemantauan hilal saat pandemik virus corona COVID-19, Kamaruddin mengatakan, meski tengah pandemik Kanwil Kemenag tetap diminta melakukan rukyatul hilal bersama Pengadilan Agama/Mahkamah Syariah, instansi terkait, ormas Islam, dan tokoh masyarakat setempat.
“Rukyatul hilal tetap dilaksanakan oleh Kanwil Kemenag Provinsi pada 23 April, saat terbenamnya matahari,” jelas Kamaruddin di Jakarta, dalam keterangan tertulis,di kutip dari Idntime Sabtu (18/04).
Trigger
2. Kemenag sudah siapkan protokol pelaksanaan rukyatul hilal saat pandemik COVID-19
Menurut Kamaruddin, pihaknya telah menyiapkan protokol pelaksanaan rukyatul hilal saat pandemik COVID-19. Aturan itu sudah dikirim ke Kanwil Kemenag agar dijadikan panduan dalam pemantauan hilal.
“Peserta harus dibatasi, maksimal 10 orang dan menyesuaikan dengan prosedur protokol kesehatan serta senantiasa physical distancing selama pandemik Covid-19,” Kamaruddin menjelaskan butir ketentuan rukyatul hilal saat pandemi.
Selain itu, dalam pelaksanaan rukyatul hilal, antara area perukyat dan area undangan dibatasi dengan batas yang jelas. Sebelum memasuki area rukyatul hilal, semua peserta harus diukur suhu tubuhnya dan menggunakan masker.
“Bagi petugas yang merasa tidak sehat tidak boleh mengikuti kegiatan rukyatul hilal,” tegasnya.
Trigger
3. Semua alat untuk pemantauan hilal hanya boleh dioperasikan satu orang
Aturan lainnya, setiap instrumen pemantauan, baik teleskop, theodolite, atau kamera, hanya dioperasikan oleh satu orang, tidak saling pinjam pakai. Petugas juga dilarang berkerumun di sekitar instrumen pemantauan yang telah ditempatkan.
“Sebelum dan sesudah digunakan, instrumen rukyat dibersihkan dengan kain yang dibasahi dengan cairan disinfektan,” pesan Plt Dirjen Pendidikan Islam ini.
“Petugas juga diimbau melakukan salat hajat, memohon keselamatan dan kelancaran dalam melaksanakan tugasnya,” ujar Kamaruddin.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *