Breaking News

Biografi singkat Pangeran Antasari

Pangeran Antasari

Nama Lengkap : Pangeran Antasari

Lahir : 1809 di Kayu Tangi

Wafat : 11 Oktober 1862 di Kalimantan
Penghargaan : Pahlawan Nasional
Sejarah Pangeran Antasari

Pangeran Antasari, merupakan salah seorang pahlawan Nasional yang lahir pada tahun 1809 di daerah Kayu Tangi, Banjar, Kabupaten Banjar di Provinsi Kalimantan Selatan.
Semasa muda beliau bernama adalah Gusti Inu Kartapati, Beliau dilahirkan oleh ibu yang bernama Gusti Hadijah binti Sultan Sulaiman dan Ayah Pangeran Antasari bernama Pangeran Masohut (Mas’ud) bin Pangeran Amir.

Sebagai seorang Pangeran, beliau merasa prihatin menyaksikan kesultanan Banjar yang ricuh karena campur tangan Belanda pada kesultanan semakin besar.

Gerakan-gerakan rakyat timbul di pedalaman Banjar.

Pangeran Antasari diutus menyelidiki gerakan-gerakan rakyat yang sedang bergolak.
Beliau dinobatkan sebagai pimpinan pemerintahan tertinggi di Kesultanan Banjar (Sultan Banjar) dengan menyandang gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin dihadapan para kepala suku Dayak dan Adipati (gubernur) penguasa wilayah Dusun atas, Kapuas dan Kahayan yaitu Tumenggung Suropati/Tumenggung Yang Pati Jaya Raja.

Pangeran Antasari, sebagai salah satu pemimpin rakyat yang penuh dedikasi maupun sebagai sepupu dari pewaris Kesultanan Banjar.
Untuk mengokohkan kedudukannya sebagai pemimpin perjuangan umat Islam tertinggi di Banjar bagian Utara (Muara Teweh dan sekitarnya), maka pada tanggal 14 Maret 1862, bertepatan dengan 13 Ramadhan 1278 Hijriah, dimulai dengan seruan :
Mati untuk Allah dan hidup untuk Allah
Seluruh rakyat, pejuang-pejuang, para alim ulama dan bangsawan-bangsawan Banjar; dengan suara bulat mengangkat Pangeran Antasari menjadi Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin, yaitu pemimpin pemerintahan, panglima perang dan pemuka agama tertinggi.

Tidak ada alasan lagi bagi Pangeran Antasari untuk berhenti berjuang, beliau harus menerima kedudukan yang dipercayakan oleh Pangeran Hidayatullah kepadanya dan bertekad melaksanakan tugasnya dengan rasa tanggung jawab sepenuhnya kepada Allah dan rakyat.

Setelah berjuang di tengah-tengah rakyat, Pangeran Antasari kemudian wafat di tengah-tengah pasukannya tanpa pernah menyerah, tertangkap, apalagi tertipu oleh bujuk rayu Belanda pada tanggal 11 Oktober 1862 di Tanah Kampung Bayan Begok, sampirang dalam usia lebih kurang 75 tahun.

Menjelang wafatnya, beliau terkena sakit paru-paru dan cacar yang dideritanya setelah terjadinya pertempuran di bawah kaki Bukit Bagantung, Tundakan.

Perjuangannya dilanjutkan oleh Puteranya yang bernama Muhamad Seman.
Setelah terkubur selama lebih kurang 91 tahun di daerah hulu sungai Barito, atas keinginan rakyat Banjar dan persetujuan keluarga, pada tanggal 11 November 1958 dilakukan pengangkatan kerangka Pangeran Antasari, yang masih utuh adalah tulang tengkorak, tempurung lutut dan beberapa helai rambut.

Kemudian kerangka ini dimakamkan kembali di Taman Makam Perang Banjar, Kelurahan Surgi Mufti Banjarmasin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *